NON AKTIF

Desember 10, 2010

Mohon Maaf,
Blog ini non aktif,
Silahkan gabung di Face Book aja ya…
thoriqohalfisbuqi@gmail.com
radenmasakoe@gmail.com

RADEN MAS AKOE SINTEN NYONO ; MASA PENCARIAN DAN PEMBAIATAN KEDUA.

Februari 19, 2010

RADEN  MAS  AKOE  SINTEN  NYONO  ;  MASA  PENCARIAN  DAN PEMBAIATAN  KEDUA.

Tiga tahun sudah berlalu, masa berjalan sesuai kehendak-Nya, dapat dibayangkan

Sampai saat ini pemahaman Raden Mas Akoe Sinten Nyono tentang hakikat belum

Bergeser dari sekedar yang dulu telah disampaikan oleh sang kakek.

Sang Guru yang dicari dan sangat dinanti itu belum juga kunjung menyapa.

Kalau boleh mengeluh, lelah teramat batinnya, lelah yang teramat sangat,

seolah menyusuri harapan ada namun hampa, ada, tiada,..ada entah dimana…?

Singkat cerita Raden Mas Akoe sudah mempunyai keluarga (sepertinya ga begitu

penting untuk diulas).

Ya saking bingungnya Akoe sampai-sampai terlibat juga kedalam dunia perghoiban,

awalnya ngobrol-ngobrol biasa, lalu nyambung kesitu, tidak blak-blakan tentu,

Akoe hanya berkata bahwa dia menanggung amanat mencari guru spiritual,

segitu saja, tidak lebih, sang teman menyarankan bertanya ke ghoib,

maksudnya bertanya kesosok sosok ghoib, katanya urusan cari mencari macam ini

lebih afdhol tanya ke’bangsa yang tidak kelihatan’, dijamin lebih efisien darpada

dicari secara manual dengan cara-cara manusiawi.

Namun, Akoe tidak langsung mengiyakan, masak iya sih ..?

Cuma lama-lama, setelah tidak ketemu juga, dia pun goyah, siapa tahu iya ?

Kalau memang bias, kenapa tidak ? tujuannya kan baik, sekedar hendak bertanya

dimanakah sang guru berada, bukan mau yang lain-lain…..

Maka mulailah dia terlibat, bersama beberapa orang teman,

Akoe ikut dalam acara menghadirkan sosok-sosok ghoib, lokasi-lokasi keramat pun

dia ziarahi, berharap ada petunjuk dari sana, semacam wangsit atau apalah judulnya.

Pokoknya info tentang keberadaan sang guru ‘urusan hati’ itu.

Setelah sekian banyak tempat dia sambangi, tidak dating juga infonya, malah nyebelin

sementara teman-temannya seru mengaku kalau melihat atau mendengar ini itu,

Akoe tidak kebagian apa-apa, boro-boro melihat atau mendengar, di toel pun nggak.

Daripada tidak dapat apa-apa, Akoe minta kepada teman-teman agar urusannya

ditanyakan ke para ghoib yang kabarnya hadir itu.

Jawaban yang datang jauh dari harapan, ga masuk akal sekalian tidak keterima di hati.

Entah jawaban itu beneran dari dunia ghoib atau sekedar karangan teman saja,

masak katanya sang guru bermukim di Afrika ? afrika apa dan dimana alamatnya ?

tidak disertakan ? Busyet…ini sih, afrika mbahmu ! kenapa gak sekalian saja bilang

sedang mancing ikan paus putih dikutub utara ? ah aya-aya wae….

Hingga pada suatu titik, Akoe merasa jenuh.

Jenuh yang benar-benar pol penuhnya, sesak bin padat rasanya, dia berpikir

mungkin perlu istirahat sejenak dari pencarian ini, bukan disudahi, sebab baginya

tidak mungkin disudahi, hatinya pasti akan menuntut kembali, sekedar istirahat,

soalnya telah sekian tahun dia mencari dan tidak ada petunjuk sama sekali.

Dalam masa reses ini, Akoe banyak tafakur di masid, lebih banyak dari biasanya,

merenungi diri, merenungi apa yang telah dilalui.

Sore itu ba’da ashar, Akoe duduk mendengarkan telaah fiqih yang disampaikan

salah seorang sepuh, sambil menyimak ulasan yang serupa dengan yang lalu-lalu itu,

dia berzikir, tasbih kesayangannya terputar syahdu di jemari tangan kanan,

kalimat tauhid Laa Ilaaha Ilalloh, ditekan masuk ke dalam hati.

Pelan-pelan kenangannya melanglang buana menyambangi kakeknya.

“Mbah, piye iki ? mana gurunya ?” setengah iseng batinnya bertanya,

Lalu,..”Jangan Tanya mbah, Tanya sama Yang Punya,” seketika sebentuk jawaban

terasa menghujam hatinya, Akoe terperanjat, luar biasa, nyata sekali rasanya itu.

“Mbah,..mbah…”dia berusaha mengontak kembali, namun tidak ada jawaban.

Dicoba beberapa kali lagi,tetap tidak terhubung..duh…(pulsanya habis kali…)

Sejenk, Akoe menenangkan diri, setelah lebih tenang, dia mengingat-ingat

pesan si mbah barusan, “Tanya sama Yang Punya ? Apa maksudnya ?”

Akoe merenung, lalu “Alloh” ujarnya tersadar, seiring air mata yang tiba-tiba

terasa mengumpul dikelopak, “Alloh….,” dia mendesah lagi, tulah dia menurutnya.

Itulah yang dimaksud oleh sang kakek, bertanya langsung kepada Alloh, bukankah

Dia Sang Maha Pemilik ? Dia yang punya segalanya ?

Maka Akoe pun ‘bertanya’ kepada-Nya, namun setelah sekian banyak tanya terkirim

saat itu, tida datang jawaban dari-Nya.

Maksudnya, tidak ada jawaban menghunjam hati seperti “SMS” si mbah tadi,

Akoe menghela napas panjang, “Ya Alloh, mengapa ? belum pantaskah diriku ?

Terlalu  tebalkah dosaku ? rintihnya dalam hati, lalu diapun terus bertanya…

Lanjut maghrib sampai isya, ba’da isya sang mertua menghampiri menantu kesayangannya

“Mas Akoe, tolong pintu, ya ? bapak mau langsung ke rumah Habib Atho’,

“Iya, pak” jawab sang menantu, paham maksudnya.

Tidak selang lama, tampak sebagian sepuh pergi ke rumah Habib Atho’, bareng skalian.

Memang rutin begitu setiap malam senin, dulu Akoe juga sudah bertanya perihal ini,

ke Mang Asep, katanya disana beliau-beliau mengaji lagi, semacam pengajian khusus sepuh.

Bayangan Akoe, pasti kajian fiqih juga untuk tingkatan professor,

ternyata kesimpulannya ga kena.

Maka Akoe pun manteng di pelataran Mesjid, memutar tasbih, rasanya lagi pengen dzikir,

sedang ingin lebih dari biasanya, lagian tanggung, nanti baliknya menjelang mertua

pulang dari pengajian sepuh.

Biasanya sekitar pukul sebelas malam, maka Akoe yang sedang resah ini lanjut

melantunkan La Ilaha Illalloh didalam hati, sambil terus mengirim Tanya

kepada Yang Punya, siapa tahu datang jawaban dari-Nya.

Namun hingga akhirnya dia pulang, yang diharap itu tak kunjung jua menjelang.

Pagi ba’da sholat subuh, Akoe berbincang dengan mertua di ruang tamu, obrolan pagi

yang ngalor ngidul itu, ditemani kopi panas, lalu dia iseng bertanya, “Pak kalau dirumah

Habib Atho’, ngaji apa sih ?”

“Wah susah itu,” jawab mertua sambil menggeleng-geleng pelan.

“Susah gimana ?”

“Yaaa, susah saja ilmunya Habib Atho’, bapak juga nggak sanggup.”

“Gimana itu, pak ?” kejar Akoe penasaran.

“Alaaah, kamu nggak bakal bisa,” sanggah mertua kesayangan ini.

Akoe meringis, “Bisa nggak bisa, kan mesti tahu dulu, pak. Gimana bisa tahu susah

apa nggak susah, kalau nggak tahu ?”

“Ah, kamu ini. Ilmunya Habib Atho’ itu sepertinya gampang, tapi susah,

beneran susahnya, bapak sudah coba dari dulu, sampai sekarang nggak bisa bisa.”

“oo, kayak apa itu, pak ?” Akoe terus mengejar, soalnya makin penasaran.

Kok bias mertuanya yang hafidz, hafal al-Qur’an, dan jago kitab gundul berkata susah ?

Susah yang seperti apa ini ?

“Gimana, yaa ? intinya, ilmu Habib Atho’ itu adalah kita nggak boleh lupa

kepada Alloh sekejap pun, harus ingat Alloh terus, langgeng ingatannya,

dalam keadaan apapun, seperti bunyi ‘ngeeeengg..’ yang nggak terputus,

kalau dibunyikan, tapi nggak ada bunyinya begitu lho, sekedar ibarat.”

Hah ?! Akoe tersentak kaget, kaget sekali, tapi dia masih punya sadar diri untuk tidak

memperlihatkan keterkejutannya yang menyengat ini.

Sambil terus mendengarkan penjelasan mertua tentang ilmunya Habib Atho’

sekuat tenaga dua menenangkan diri, tampaknya berhasil, sang mertua tidak

menyadari keterpanaan menantunya.

Padahal, tubuh Akoe nyata bergetar pelan, keringat dingin terasa merembes

disekitar tengkuk, dan napasnya pun ngos-ngosan seolah usai lari pagi.

“Seperti itulah, ilmunya Habib Atho’ itu ilmu tua, tauhid murni,

untuk itu orang harus dibai’at dulu, harus disumpah dulu atas nama Alloh,

nggak boleh sembarangan, sebab jelas ini bukan ilmu sembarangan,

dan bukan untuk sembarangan orang.

Hanya pewarisnya yang sanggup menembus, yang bukan, mungkin sekedar sampai

kulitnya saja, kulitnya pun sudah ampun-ampunan itu, kalau bias sampai segitu,

sudah terhitung bagus.” Ujar sang mertua pelan.

Akoe mengangguk-angguk diam, terus mengendalikan diri, susah nian rasanya

membuka mulut, seolhah-olah bibirnya direkat lem keras.

Untungnya muncul si Wulan yang sudah cantik sehabis dimandikan dan didandani

kuncir dua oleh mamanya, biasanya mau dioper ke kakeknya untuk diajak

jalan-jalan pagi keliling kampong.

Maka tanpa ‘babibu’ lagi, sang kakek segera menyambar cucunya yang sudah siap.

Jalan-jalan pagi bareng cucu, memang salah satu kegiatan rutin yang disukai mertua,

apalagi sang cucu ini kan geulis pisan, seperti mamanya, layak dipamerkan kepada

mereka yang dijumpainya di jalan, atau diadu dengan cucu teman-temannya,

cucu para kakek yang lain, biasa..aduan nyanyi, aduan jogged,..atau sekadar dijajarkan

untuk dinilai cakep cantiknya,…mungkin orang memang sukanya begitu

kalau sudah menjadi kakek-kakek.

“Kenapa, mas ?” isteri Akoe membuyarkan lamunan suaminya.

“Hem,…!” Akoe menoleh.

“Mas ini lho, kenapa ? kok dari tadi senyum-senyum sendiri sambil keringatan ?”

“oo,…anu.., kamu cantik kalau masih pakai daster, he..he…”

“Ah, gombal…,” sahut sang isteri, seraya beranjak masuk.

Akoe tahu, mantan pacarnya itu tersipu sambil berlalu, soalnya garis senyum di ujung

bibir sang putri jelas terlihat.

Sendirian lagi sekarang, Akoe pun merenung…..

“Habib Atho’ ?,  benarkah ? Habib Atho’ yang senyap itu ? masak sih ?

Tapi, tadi bapak jelas-jelas bilang, ilmunya Habib Atho’ adalah ilmu ingat,

masak beliau bohong ? memangnya, ilmu apa yang kucari selama ini ? itu, kan ?

Maka Akoe pun mendesah, “Alloh….,” sambil merembes air mata.

Siangnya sekitar jam sepuluh, Akoe melesat ke rumah Habib Atho’ tanpa

sepengetahuan mertua, dia disana jumpa Mang Ihin, yang biasa mengiringi Habib.

“Ada apa ?” dia bertanya.

“Habib ada, Mang ?” Akoe balik bertanya.

“Ada,..ada apa ?” Mang Ihin bertanya lagi.

“Saya perlu jumpa dengan beliau.”

“oo, tunggu sebentar disini, mamang tanyakan dulu ke Habib, ya ?”

Akoe mengangguk, duduk menunggu, tidak lama, Mang Ihin muncul

“Ayo,” ajaknya, Akoe mengangguk lalu mengikutinya masuk kedalam rumah

yang terhitung luas ini, setahun berada dikota ini, baru sekarang dia berkunjung

ke rumah Habib, padahal mertuanya adalah kakak kandung isteri Habib.

“Ini kamarnya Habib, kamu ketuk aja sendiri, ya..?”

“Makasih mang,”

Akoe menenangkan diri sejenak, “Bismillah…,” ucapnya dalam hati,

lalu pintu kamar itu dia ketuk pelan, “Assalamu ‘alaykum,..”

“Wa’alaykum salam,” terdengar sahutan dari dalam, “Masuk..”

Akoe pun masuk, terlihat Habib duduk bersila diatas sajadah, tersenyum ke arah nya,

Akoe balas tersenyum, lalu cepat-cepat sungkem.

“he..he…ada apa, menantu haji ?” beliau bertanya.

Akoe meringis dipanggil menantu haji oleh beliau.

“Ada apa ?” Habib berujar lagi.

“Begini, bib,..emm.., apakah habib mengajarkan ilmu untuk bisa ingat terus kepada Alloh .”

“he..he…siapa yang bilang ?”

“Bapak,” jawab Akoe singkat, lalu menceritakan perbincangannya tadi dengan mertua.

“Begitulah, bib,..apakah ini benar ? Tanya Akoe, sambil menatap penuh harap.

Habib tersenyum, “memangnya kenapa ?” beliau balik bertanya.

“Soalnya begini, bib…”Akoe pun menceritakan kisah amanat kakeknya,

sampai ke kisah pencarian guru yang telah lama dilakukan.

Habib tersenyum, “Pelintas Barzakh” gumamnya pelan.

Akoe terkesiap, pelintas barzakh ? bukankah dulu si mbah pernah mengucap ini,

maka dia menatap habib dengan tatapan bulat bundar.

“Kenapa ? beliau bertanya.

“emm,..mbah menitipkan ‘sasmita’ kepada saya, saya diminta membuka itu

kepada siapa yang saya yakini kena dengan patokannya. ..mohon izin…”

maka Akoe pun membuka ‘sasmita’ itu kepada habib, ‘sasmita’ adalah semacam

pertanyaan sandi, yang harus dijawab dengan sandi pula.

Rangkaian puitisasi berbahasa arab pun meluncur dari mulut Akoe bak air mengalir

dari sumbernya, seraya berbalas dengan habib yang rupanya beliau pun tahu.

Akoe pun terkapar ‘ditembak’ habib, bagaimana tidak, jawaban beliau sama persis

dengan yang diberitahukan kakeknya, tepat sampai ke urutan kata-katanya.

‘Sasmita’ ini memang bukan sekadar sepatah kata, melainkan seuntai kalimat

yang harus dijawab dengan kalimat pula.

Lalu tangisnya pun tak tertahankan, diatas silaan kaki beliau. Akoe mencucurkan air mata,

Habib Atho’ ternyata, bukan siapa-siapa, habib yang senyap itu, sering mengirim senyum

Kepadanya, dia kira hanya sekadar senyum, namun kini…,rasanya bukan,

pastilah itu sebagian tanda, namun Akoe belum mampu menangkapnya,

barulah kini tiba saatnya.

“Sudah,..sudah..” habib menepuk-nepuk pelan pundak tamunya.

Tapi, Akoe lanjut menangis, rasanya, belum hendak berhenti, hingga akhirnya

berhenti sendiri beberapa saat kemudian.

Dia mengangkat wajah, terlihat habib tersenyum, Akoe balas senyum itu dengan

semua tulus yang tersedia, sambil menyusut sisa mutiara air matanya..

“Nah, sekarang bagaimana ? Tanya habib.

“Mohon saya bisa diterima menjadi murid habib.”

Habib mengangguk angguk, “Tentu kamu sudah tahu bahwa perlu dibaiat untuk ini kan ?”

“Iya, bib,..saya siap disumpah atas nama-Nya.”

“Bagus,” Habib kembali manggut-manggut. “Mang Ihin…” ujar beliau pelan.

Akoe bengong, kalau maksudnya memanggil mang ihin, pelan sekali,

apa bisa kedengaran disana ?

“Labaik, bib…”terdengar sahutan nyaring dari arah luar.

Wuh, sampai ternyata, kok bisa ? tapi Akoe tidak hendak tanya-tanya, segan rasanya.

Sebentar kemudia mang ihin muncul, “Na’am bib, ada apa ?”

“Mang tolong siapkan disiapkan pembaiatan “ pinta habib kalem.

Mang ihin tidak langsung menjawab, seperti agak bingung, lalu menatap Akoe

dengan kening berkerut.

“Tolong disiapkan,” pinta habib lagi.

“Na’am bib, sekarang..?”

Habib mengangguk, mang ihin juga ikut mengangguk, lalu beranjak keluar kamar.

Dibatas pintu, dia melirik Akoe, kepalang tanggung, Akoe pun balas meringis,

soalnya mang ihin main lirik-lirikan terus, habib terkekeh pelan, entah untuk apa.

Sambil menunggu penyiapan yang dilakukan ihin, tidak ada perbincangan diantara mereka

habib senyap, memutar pelan tasbihnya penuh perasaan, Akoe pun ikutan, tasbihnya

terputar syahdu dijemari tangan kanan.

Dengan mata terpejam, habib kembali tersenyum, entah kepada siapa atau karena apa.

Beberapa saat kemudian mang ihin masuk mebawa tungku bara kecil, lalu keluar lagi

Sebentar, kembalinya membawa al-Qur’an dan sebuah kitab kecil bersampul coklat

sekalian dengan sekotak buhur. “Kholas, bib..” ujarnya.

“Syukron,..antum disini, jadi saksi” pinta habib, sambil memejamkan mata.

Mang ihin mengangguk, habib membuka matanya, menghela napas, lalu meminta

Akoe maju mendekat.

“Raden Mas Akoe Sinten Nyono,..kamu siap ? beliau bertanya kepada calon muridnya.

“Na’am, siap bib.”

Habib mengangguk angguk, “Tafadhol,..ayo mang..”

Mang ihin mengangguk, lalu bergeser kebelakang Akoe, dengan posisi berlutut,

dia memegangi al-Qur’an diatas kepala sang calon murid.

“A’uudzubillahi minasy syaithoonir rojiim, bismillaahir rohmaanir rohiim.

anakku, antum ikuti semua kata-kata ana, ya..” pinta habib.

“Iya bib”

Habib meraih tangan kanan Akoe, jempolnya dipegang dengan agak ditekan

seperti waktu ijab Kabul nikah.

“Astaghfirullooh, innahu kaana ghoffaaroo….., ucap habib memulai sumpah suci itu.

Raden Mas Akoe pun mengikuti.

Maka, prosesi pembaiatan inipun dilaksanakan…

Jiwa Akoe bergetar saat mengikuti ucapan sumpah suci yang dipandu habib,

bagaimana tidak, ..dia bersumpah atas nama-Nya, dibawah kitab suci-Nya,

dari kalimat-kalimat yang dia ucapkan, Akoe sadar bahwa ini adalah sumpah

langsung kepada-Nya, habib bertindak hanya syariatnya saja, sejatinya, bukan

perantara dirinya dengan Tuhan. Ini, “Siaran Langsung”.

“Demikian aku bersumpah kepada-Mu.” Ucap habib

“Demikian aku bersumpah kepada-Mu…” Akoe mengikuti

“Laknat-Mu langsung kepadaku, jika aku melanggar sumpah ini” ucap habib lagi.

“Laknat-Mu langsung kepadaku, jika aku melanggar sumpah ini…..”

Seerrr, darahnya mendesir saat mengucap kalimat ‘mengerikan’ itu, sekiranya terselip

niat main-main, siapa yang tidak ngeri ? orang atheis sekalipun pasti jerih

dilubuk batinnya, walau lahiriyahnya mampu berakting tidak.

“Alhamdulillah.” Ucap habib.

“Alhamdulillah….”sahut Akoe, sambil memejamkan mata.

Lalu habib menutup baiat ini dengan seuntai do’a yang terdengar asing di telinga Akoe,

selama ini,dia belum pernah mendengarnya, penekanan berulang pada kata ‘Ya Alloh,

Ya Rohman, Ya Rohim’ dalam bait-bait do’a ini, benar-benar menggetarkan hati.

Usai itu, habib member waktu sejenak kepada Akoe untuk mengendalikan dirinya,

Akoe menundukkan kepala, menghela napas berkali-kali untuk meredakan gejolak jiwa

yang  serasa habis dikucek tangan raksasa ini.

“Bagaimana,..sudah tenang..?” Tanya beliau sesaat kemudian.

“Belum, bib..sebentar..” jawab Akoe sambil masih ngos-ngosan.

Habib mesem, lalu memperpanjang jatah penenangan, sampai benar-benar terlihat tenang.

“Sudah mang,..terima kasih, tolong diberesin ini.“ pinta habib ke mang ihin.

Mang ihin lalu mengemasi perkakas pembaiatan itu.

“Terima kasih mang.” Ucap Akoe saat mang ihin hendak beranjak.

“Sama-sama” balasnya, mengirim senyum, bukan lirikan maut lagi.

Sepeninggal mang ihin, dalam keadaan kamar tertutup rapat, habib berwejang,

“Raden Mas Akoe Sinten Nyono, sekarang antum adalah manusia yang berbaiat

kepada Alloh, antum telah menyatakan sumpah kepada-Nya, siap untuk menempuh

perjalanan ruhaniah menuju sifat kesempurnaan, al-Insanul Kamil, sungguh bukan

perjuangan yang mudah, tapi tidak lanta berarti mustahil.

Buktinya, ada,..untuk itu, antum akan menerima tiga rahasia semesta yang sangat

Terlarang dibuka kepada siapapun yang belum berbaiat, berlaku untuk siapapun

yang belum bersumpah kepada-Nya, siapapun adalah siapapun, tanpa pandang kecuali,

apakah antum siap…mengemban ini ….?

“Siap bib,: jawab Akoe mantap, memang mantap rasa hatinya.

Habib tersenyum, “Baiklah, mendekatlah kemari…”

Akoe mendekat, habib meminta terus mendekat sampai ‘ketemu dengkul’.

sama persis seperti saat waktu si mbah dulu.

Diawali ucapan, “Alloh,…….(rahasia nih ye…) beliau membisikkan ketiga rahasia

itu ketelinga kanan Akoe, sekali jalan saja, tidak ada siaran ulangan, tapi jelas bagi Akoe.

Apa yang dibukakan oleh habib barusan terekam olehnya, walau susunan kalimatnya

berbahasa puitis, bersimbol-simbol, rada-rada abstrak.

Akoe memang tidak langsung paham makna simbolis yang ada, tapi dia merekamnyadengan baik dalam benak, aneh juga terasa gampang baginya menghafal kalimat puisi itu,

sekali dengar langsung nempel, hafalnya lho..bukan mengertinya..

ini dulu, pahamnya nanti dikejar sambil jalan.

RADEN MAS AKOE SINTEN NYONO DI BAI’AT

Februari 19, 2010

RADEN  MAS  AKOE  SINTEN  NYONO  DI BAI’AT

“Assalamu’alaykum,” sapa Raden Mas Akoe Sinten Nyono

“Wa’alaykum salam wr.wb,” sahut si mbah,  “duduk, le…!”

Akoe pun duduk bersila, berhadapan dengan kakeknya, tungku bara arang, yang ada

diantara mereka, mengeluarkan asap harum setelah ditaburi semacam serbuk oleh kakeknya.

Akoe tidak tahu serbuk itu, tapi yang jelas bukan kemenyan, kalau kemenyan dia tahu,

wanginya tajam nyegak, yang ini lain harumnya semilir lembut, terus terang,

magis terasa suasana jadinya.

Si mbah tersenyum melihat ‘kemagisan’ sang cucu…

“Tole,…” si mbah buka pembicaraan

“Dirasa rasa, hidupmu ini lumayan berwarna, ya ? Bapakmu Jawa, ibumu Sunda,

sekarang sudah yatim piatu, mbah sama mbah puteri yo wis maghrib,

tapi Gusti Alloh itu ada, le’, nyata adanya, bukan seolah-olah.”ujar si mbah tegas.

Akoe menyimak, belum jelas arah pembicaraan ini.

Si mbah membuka-buka kitab terjemahan al-Qur’an milik Akoe.

“Coba kamu baca.” Pintanya, menunjukkan surat Fushilat ayat 54. (QS : 41;54)

“Alaa innahum fii miryatim mil-liqoo’i robbihim, alaa innahuu bikulli syai-im muhiith.”

“Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan,

Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

Akoe pun menghela napas setelah membaca ayat ini, apa maksudnya ?

“Mengerti, le’ ?” Tanya sang kakek

“Tidak,” jawab cucunya

Si mbah tersenyum lebar,

“Nggak apa-apa kalau sekarang belum mengerti, tapi,..kamu percaya, ..kan ?”

Akoe langsung mengangguk.

“Lumayan, iman dalil, he….he…”

Mendengar itu, Akoe ikut terkekeh, teringat pelajaran ‘Iman Dalil’ yang dulu,

yang lewih apik dari pada melu-melu kebo itu.

“Pertemuan…., si mbah mendesah, “Kata Alloh, banyak yang ragu tentang pertemuan

dengan-Nya, ada yang percaya, tapi ada yang nanti katanya, nanti di alam akhirat,

kalau  manusianya sudah mati, padahal,….Gusti Alloh itu sami mawon – sama aja,

dulu ada, sekarang ada, nanti ya tetap ada, wong Maha ada.”

Akoe sigap hendak bertanya, tapi ditahan oleh kakeknya.

“Jangan Tanya, percuma…karena kamu belum tahu ‘rasa’ nya, yang mbah sampaikan ini

terima dulu untuk bekalmu nanti mencari ‘rasa’nya, bukan mbah ga mau cerita,..

tapi piye carane’ cerita ‘rasa’?

Rasa, ..ketemunya ya sama rasa lagi, kalau sudah ada ‘rasa’mu, baru kita bisa

ngerasani ‘rasa’, mengerti gak le’….?”

Akoe terdiam sejenak, lalu mengangguk, dulu kakeknya sudah pernah membahas

sedikit tentang ‘rasa-rasa’ ini.

Si mbah tersenyum, membuka-buka lagi kitab terjemahan itu,

“Ayo sekarang baca yang ini.” dia menunjukkan surat ar-Ruum ayat 8. (QS : 30;8)

Akoe membacanya seperti tadi,

“……Wa inna katsiirom minan naasi biliqoo’i robbihim lakaafiruun.”

“….Dan sesungguhnya, kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan

pertemuan dengan Tuhannya.”

Lalu Akoe terkesiap menatap sang kakek.

“He…he..benar-benar ingkar, tidak percayanya bundar, kebanyakan lagi,

bukan yang sedikitnya, nah,…kamu jangan sampai termasuk mereka yang benar-benar

ingkar itu, ya..? awas,…hati..hati..,” ujar si mbah kalem.

Akoe mengangguk cepat, siapa yang mau..emangnya ada yang mau…?

“Ayo terusin,..sekarang yang ini,” si mbah kembali menunjukkan dalil al-Qur’an

surat al-Insiqooq ayat 6 (QS : 84;6)

“Yaa ayyuhal insaanu innaka kaadihun ilaa robbika kad han famulaaqiihi.”

“Hai manusia, sesungguhnya kamu harus berusaha dengan sungguh-sungguh

menuju Tuhanmu, sehingga kamu menemui-Nya.”

Akoe pun manggut-manggut sekarang, perasaan rada-rada ngerti deh…

“Kita disuruh berusaha, ya..? berusaha dengan sungguh-sungguh, nah seperti itu

seharusnya , kita para manusia, jelas-jelas diperintah oleh Gusti Alloh untuk menuju

kepada-Nya,…menuju kepada-Nya ini maksudnya mengenal Dia.

Kalau bahasa arabnya, ‘makrifatulloh’, jangan dibayangkan kayak kamu

pergi dan menemui seseorang..? sebab Gusti Alloh tidak tinggal disuatu tempat.

Alloh itu laysa kamislihi syai’un, tidak serupa dengan apapun, jangan disamakan

dengan segala yang bisa dibayangkan oleh akal,..jangan pernah..”

Maka Akoe pun melongo, rada mengerti,..apanya..?

Laysa kamislihi syai’un, wa huwas samii’ul bashiir, tidak ada sesuatu pun yang serupa

dengan-nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS :42;11)

“Kamu tahu bedanya sholat Nabi dengan sholatnya kebanyakan kita ?”

Sang kakek kembali bertanya,..Akoe menggeleng-gelengkan kepala.

“Pak Ustadz belum sempat memberitahukan tentang ini ?”

Akoe merenung, lalu mengangguk, seingatnya memang iya pak ustadz mengajarkan

tata cara sholat, tapi tidak pernah bilang ‘bedanya’ dengan sholat Nabi, adanya malah

bilang seperti itulah sholatnya Nabi, bagaimana ini…?

“Memang ada bedanya mbah..?”

“Ada, he..he..nyata sekali, satu raka’at sholatnya Nabi, lebih tinggi nilainya dari seribu

raka’at sholatnya kebanyakan kita, kenapa..? karena Nabi sholat dengan makrifatnya,

dengan mengenal kepada yang disembahnya, benar-benar kenal, bukan kenal-kenalan.

Itu sebabnya dalam riwayat Isro Mi’roj dikisahkan bahwa Nabi Musa AS meminta

Kanjeng Nabi Muhammad untuk naik lagi memohon keringanan atas jumlah sholat fardhu.

Bahkan, ketika sholat fardhu tinggal lima waktu dari awalnya yang lima puluh waktu,

Umatmu di akhir zaman tidak akan mampu, kata Nabi Musa AS.

Apanya yang tidak mampu..? tata caranya..? bacaan dan gerakkannya..?

Akh nggak mungkin, mudah kalau cuma soal itu, lha kamu saja sekarang sudah pintar

melaksanakan  tata cara sholat, bukan…?”  Akoe mengangguk.

“Jadi apanya yang tidak mampu itu..?”

“eemm, makrifatnya mungkin ya mbah..?”

“He..he.. itulah, Nabi sholat dengan makrifatnya, lha kita boro-boro kenal,

wong ingat saja nggak, sholatnya kebanyakan kita itu, lahiriyah saja yang bagus,

tertib gerakannya, fasih bacaannya, kalau perlu skalian pakai cengkok arab

yang ‘yaqin’ itu, he…he…”

Akoe ikut terkekeh, soalnya si mbah bilang ‘yaqin’nya pakai gaya yang pentolan

jakun dilehernya naik turun.

“Bukan salah pakai’yaqin’ tadi, silahkan saja kalau memang mantapnya begitu,

tapi jangan ‘yaqin’ lahiriyahnya saja, hatinya harus juga ‘yaqin’, percuma kalau

cuma luarnya saja, sebab sholat itu sejatine’ urusan dalam.”

Akoe pun merenung.

“Sudah cukup dulu kata-katanya, nanti jadi iman kata-kata, kalau kebanyakan

kata-kata,..he..he..kalau mau cari dalilnya di Qur’an dan Hadits, akeh..banyak buanget

yang menegaskan tentang pertemuan dengan-Nya.

Pertemuan ini jangan selalu dipandang nanti, kenapa harus nanti..? sekarang saja,..

wong sekarang juga ada, yang nanti itu hasilnya sekarang, kalau sekarang bias,

nanti lebih bias, kalau sekarang nggak bias, ya..nggak tahu nantinya..bisa apa nggak..”

“Mengerti, le’…?”

“agak-agak, mbah…”

Si mbah tersenyum, “Lumayan,..dari pada nggak ada….”

Cucunya meringis.

“Tole’, dengarkan ini…yang lebih benar adalah..’batin – lahir’, bukan lahir batin,

‘Hakikat – syari’at’, bukan syari’at hakikat.

Kanjeng Nabi Muhammad itu, paham hakikatnya dulu, baru dikenai hukum hukum

syari’at, Beliau berjumpa dulu dengan Alloh, makrifat dulu, kemudian barulah

turun perintah sholat, iya khan…Itu sebabnya, satu raka’at sholatnya Nabi, kata Hadits

lebih berat disbanding seribu raka’at sholatnya kita, jangankan seribu, sejuta raka’at

juga tetap beratan seraka’at sholatnya Nabi.

Tapi jangan lantas gampang berkilah, itu kan Nabi…..,kita manusia biasa nggak bias

kayak Nabi, wah ya susah kalau suka-sukanya bikin pagar duluan seperti itu.

Kanjeng Nabi juga manusia, Beliau di maksum, di sucikan oleh Alloh untuk

dijadikan teladan bagi umat manusia,…manusia yang lain disuruh mencontoh….,

kalau contohnya tidak bisa dicontoh…..?”

Akoe bengong menatap sang kakek,..wah makin seru nih…

“Meneladani Nabi,..bukan artinya menjadi nabi, gombal mukiyo kalau ada

yang mengaku aku nabi, Nabi terakhir ya Kanjeng Nabi Muhammad, titik,

nggak pakai koma komaan, kita disuruh Gusti Alloh mencontoh Beliau, meneladani,

mencontohnya, ya semuanya,…kabeh, luar dalam, jangan milih-milih,

enak men boleh milih milih, he..he.he..memangnya milih duren ?

termasuk soal hakikat-syariat tadi, batinnya dulu diberesin, barulah lahirnya.”

“Itu bedanya, Kanjeng Nabi, hakikat dulu baru syari’at, kita syar’at dulu baru disuruh

mencari hakikat, piye carane’..? dengan mencontoh contohnya yang sudah disediakan,

tapi jangan cuma lahiriyahnya, batiniyahnya juga harus disimak, justru bagian batin

inilah hakikatnya, kalau cuma luarannya, keenakan nanti Yamani sama tuan Salim, he..he..

dari lahir jenggotnya sudah lebat, wong turunan arab, tinggal dirapikan sedikit, gagah,..

yang lokalan agak repot, sebab bulunya cuma sepuluh lebih selembar, ha…ha….”

Akoe pun ikut terkekeh.

“Tapi bukan maksudnya dilarang lho, kalau kamu mau pelihara jenggotmu

yang pas pasan itu, ya nggak apa apa, yang penting bareng sama hatinya,

nah jelas khan hubungannya hakikat dengan makrifat..?” Tanya si mbah.

“Belum mbah, gimana itu..?”

“oo belum kelihatan ya..? begini, makrifat itu hasilnya hakikat, tidak ada makrifat

tanpa menembus tabir hakikat.

Hakikat itu, wujudnya ‘rasa-rasa’, kumpulan ‘rasa’.

‘Rasa-rasa’ itu nantinya terasa hanya satu ‘rasa’, yaitu ‘kebersamaan’.

Rasa kebersamaan dengan-Nya, itulah makrifat, gambaran mudahnya begitu…,

tapi aslinya tidak segampang ini, kenapa…? Karena makrifat bertingkat-tingkat

tidak ada batasnya, dan bukan hak manusia, pasti kamu bingung iya khan..?”

“Nggih mbah,” sahut sang cucu cepat.

“Nggak apa apa, banyak ko temannya di dunia, he…he…terima saja dulu,

nanti kalau sudah ada ‘rasa’mu, baru kamu tahu..”

Akoe manggut manggut, soal kumpulan ‘rasa’ yang nantinya jadi ‘satu rasa’

harus di’rasa’kan dulu, baru tahu ‘rasa’nya, tidak bakal te’rasa’

kalau cuma di ceritakan, di’rasa-rasa’,….iya juga sih….

Si mbah menaburkan lagi serbuk tadi ke tungku bara arang di depannya,

harum pun menyebar. “Tole’..” desahnya pelan.

“Balik kedepan lagi, yang lebih utama itu batinnya, hakikatnya, tanpa ini

syari’atnya tidak akan benar, kalau batinnya sudah benar, maka syari’atnya

akan terbawa benar.”

Sambil agak menunduk, Akoe mendengarkan.

Hening sejenak, si mbah menatap sang cucu.

“Diterima dari,……fulan bin fulan…sebuah pengetahuan untuk membuka hakikat,

mbah akan menurunkan pengetahuan ini kepadamu, apa kamu mau..?”

Akoe terpana, lalu mengangguk seraya “Baik mbah..”

Si mbah menghela napas, “Alhamdulillah,” desahnya.

“Kalau kamu mau, ayo dimulai, kita hadiahan tawasulan dulu ya baca Fatihah”

Lalu hadiahan itu pun dilaksanakan, ilaa hadhroti…….dst.

Setengah jam berlalu, si mbah menggeser tungku bara agak menjauh dan meminta

sang cucu merapat hingga ‘ketemu dengkul’, lutut mereka saling menempel

selanjutnya sang kakek membisikkan pengetahuan hakikat itu kepada cucunya,

sang cucu pun kembali terpana dengan keringat dingin bercucuran.

“Tole’ itulah koncinya,” ujar sang kakek pelan.

“Tapi itu baru koncinya, kamu masih harus mencari pintu yang cocok dengan koncimu,

dibalik pintu itulah, kumpulan ‘rasa’, bisa dipahami…?”

“Iya, mbah, Cuma kenapa nggak sekalian dengan pintunya..?”

“Masing-masing sesuai jatah, bagian mbah sampai kunci, ada kekasih lain

yang bagian pintunya.”

“Kekasih..? apa itu mbah..? perempuan..?”

Si mbah terkekeh lagi,..”Bisa lelaki, bias perempuan, seseorang yang sudah

melintasi alam ‘Barzakh’, sudah melebur, lenyap.”

Akoe melongo, melintas alam barzakh ? lebur, lenyap ? apa maksudnya ?

Menembus alam barzakh ? alam penantian sesudah mati itu ?

Ah…maka dia pun bertanya tentang ini, tapi kakeknya nyerengeh saja

tidak hendak menjawab.

“Sudahlah,..simpan saja pertanyaanmu karena ini memang bukan bagian

tanya jawab, tidak ada petanyaan, tidak ada jawaban, adanya hanya ‘rasa’,

yang penting jaga koncimu, terus cari pintunya sampai ketemu, kalau tidak cocok

dengan koncimu, jangan berguru dengan orang itu, biarpun sehebat apa kelihatannya,

percuma,..mbah yakin dia tidak tahu hakikat agama, tahunya sekedar dalil-dalil

hakikat, atau syari’at yang di hakikat-hakikatkan, sebenarnya hakikat dan syari’at

itu satu geluntungan, tidak terpisah.

Kalau kelapa, syari’at itu sabutnya, hakikat itu minyaknya, lewat daging buahnya,

sebab hakikatlah yang membentuk syari’at, jangan dibalik,..

hakikat adalah kebenaran atas keseluruhan akhirnya.

RADEN MAS AKOE SINTEN NYONO belajar ngaji.

Februari 19, 2010

RADEN  MAS  AKOE  SINTEN  NYONO  belajar ngaji.

Cerita ini didedikasikan, karena banyaknya paham2 yang menghujat para sufi.

Benar, yang penting memang hatinya…,Mbah Kaspo menjawab pertanyaan sang cucu tentang “segumpal daging”. Kalau itu apik, kebawa bagus nilai perbuatannya, kalau jelek, ya kebawa jelek, walau mungkin kelihatannya bagus.

Begitulah pengarahan sang kakek, Akoe belajar membaca dan mengaji al-Qur’an, belajar bacanya di mesjid diajari ustadz subki, kalau ngajinya, dibimbing langsung oleh sang kakek.

Mbah Kaspo memberi cucunya itu kitab terjemahan al-Qur’an, Akoe senang, sebab ada bahasa indonesianya. Jadi, bisa lebih mudah dipahami, bentuknya juga bagus, kecil ringkas semodel injil, sang kakek juga memberinya buku kumpulan hadits sebagai pelengkap.

Sejak itu, sedikit demi sedikit, Mbah Kaspo mulai member wejangan-wejangan islam ke cucunya, awalnya Akoe belum menyadari, tapi lama-lama terasa juga kalau focus penyampaian kakeknya berbeda dengan yang disampaikan ustadz subki, pak ustadz banyak membahas tata cara, kalau kakeknya lebih kepada hal-hal yang bersifat batiniah, ustadz subki membahas matematika, mbah kaspo mengupas sastra. “Kok beda yam bah ?” Akoe pun bertanya, si mbahe’ tersenyum, “Tidak beda, dua-duanya ajaran islam.” Yang diajarkan ustadz, disebut syariat, yang ini namanya hakikat, tapi baru teorinya, belum jadi yang dimaksud…ehmmm apa ya ? belum hidup gitu lah. Maksudnya gimana ? he..he..ya begitulah, syariat itu lahiriyahnya islam, peraturan, tata cara, hokum, dalil, dan semua yang bersifat zhohir. Cara sholat, caranya puasa, caranya zakat, caranya haji, dan yang lain, kalau hakikat, bagian batiniyahnya, dalamannya syariat, urusan hati.

Akoe memandang kakeknya, agak terpana, urusan hati ternyata…

Tanpa mengabaikan aspek syariat, kesananya Akoe lebih tertarik urusan hati, soalnya, pertamanya juga urusan hati yang menjadi alas an baginya untuk belajar ngaji.

Kebetulan kakeknya penggemar tirakat, jarang tidur malam, maka Akoe mengejar pemahaman “urusan hati” ini hamper setiap malam, si mbah tak keberatan, malahan senang.

“Biarpun seorang hafal dalil-dalil al-Qur’an atau hadits sekalian fasih berbahasa arab, kalau hatinya kosong, ya tetap saja batil hukumnya, bohong,..si mbah berwejang.

“Kenapa mbah ?” Tanya Akoe.

“Sebab, dia tidak tahu kebenaran hakiki dari dalil-dalil itu.”

“Lho, kok ga tahu ? kan hafal ?”

“He..he…, beda sekali hafal dengan tahu itu…le..**kalau kamu hafal, belum tentu tahu, kalau kamu tahu, pasti hafal** hafal disini jangan dilihat seperti hafalan biasa, ya ? Hafal, maknanya paham atau mengerti, karena kamu mengerti, maka kamu tahu, karena kamu tahu, pastinya mengerti, seperti itu…

Bingung, nggak…?

Kayak bolak balik ya, mbah..?

Memang bolak balik, itu juga, he..he..

Kening Akoe berkerut, apa yang itu-itu juga..? Lha kalau yang nggak tahu ? yang Cuma hafal saja, gimana..? Si Mbah cekikikan lagi. “ Ya nggak bias bolak balik, macet, coba bayangkan, hafal tapi nggak tahu maknanya…, apakah itu ? Judulnya, ya nggak tahu…, tahu apa ? hafalannya ? kata-katanya ? nggak pakai hafal kata-katanya juga nggak apa-apa, tinggal baca saja, khan ada kitabnya ?

Yang lebih penting adalah paham maknanya.”

Akoe menghela napas..

“Memang nggak gampang urusan bolak balik ini, le’…

apalagi kalau sudah lewat bolak baliknya, he..he…., lenyap…”

“Lho, apanya yang lenyap ?”

“Sudah segitu dulu, susah ini, karena aslinya tidak bisa diomongkan,

bukan mbah nggak mau, nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa, mbah..?”

“Ya iyalah, gimana ngomongnya kalau nggak ada yang diomongin ?

Mau ngomong apa..kalau bolak balik…lenyap..? he..he

Akoe pun geleng-geleng kepala, bingung dia…

“sudah pusingnya, sekarang kita bahas bab berpasangan saja ya ?

Soalnya, yang lenyap-lenyapan susah”, si mbah kembali mesem

“Jadi, lahir dan batin mestinya jalan seiring, ya lahirnya, ya batinnya.

Ya syariatnya, ya hakikatnya, jangan dipisah-pisahkan, sebab berpasangan itu sunnatulloh.

Lahir batin, dunia akhirat, siang malam, terang gelap, laki perempuan.

Jangan diributkan, wong begitu maunya Alloh, kanjeng Nabi Muhammad pun jelas-jelas

Mengajarkan syariat dan hakikat, dua-duanya…, tapi, banyak yang belum menyadari ini.

Disangka kanjeng Nabi hanya mengajarkan syariat saja, dipikirnya, islam itu hanya bentuk lahiriyah semata, padahal islam itu luar dalam, ada yang tersurat dan juga tersirat.”(Ilmu Hakikat hanya

diajarkan kepada Kholifatur Rosyidin secara langsung. Red)

Akoe manggut-manggut, terus terang belum paham.

“Dasarnya, ya iman…, iman yang sebenar-benarnya iman, yang lahir dan batin, tidak kena kalau

pakai iman-imanan, iman kata-kata, iman dalil-dalilan, iman akal-akalan.”

Si mbah berujar pelan. “Sebab, iman itu bukan kerjaan mulut, bukan juga kerjaan akal,

iman adalah sesuatu yang benar adanya dan dapat dirasakan dalam ‘sejatining hati’

setiap mukmin, hanya mereka yang mukmin, yang bias memahami hakikat keimanan,

yang belum mukmin, nggak tembus…, tahu nya sekedar iman taklid, paling banter iman dalil,

tidak sampai iman yang hakiki,” lanjut si mbah.

“Apa taklid-taklidan itu itu mbah..?”

“Iman taklid itu, kalau kamu percayanya kepada Gusti Alloh Cuma ikut-ikutan saja,

Ikut-ikutan orang, walau katakanlah orang yang diikuti itu ‘paham agama’.

“ooo, melu-melu kebo yo mbah…?”

“Iya, he..he..he…”

Akoe mengangguk-angguk, belum termasuk iman yang benar ternyata kalau hanya

‘ikut-ikutan kerbau’ saja,..iya juga sih

“Kalau iman dalil, tahu nggak..?” Tanya si mbah.

Akoe menggeleng.

“Iman dalil lebih baik dari yang kebo tadi, tapi tetap belum benar,

iman dalil itu, kalau kamu percaya kepada Gusti Alloh sebatas dalil-dalilnya saja,

ceritanya kamu baca al-Qur’an atau Hadits terus percaya dalil-dalilnya saja, tapi segitu saja.

“ooo masih salah juga…?”

“Ya iya lah…”

“Tapi,  khan memang begitu…,mbah ? Percaya dalilnya dulu, terus dicari…..”

“Nah itu sing bener, he..he..he…masak percaya Gusti Alloh Cuma sampai dalilnya ?

Ya belum benarlah, harus sampai ketemu ‘rasa’ nya, kalau misalnya kue, dalil itu resepnya

Rumusnya bikin kue, bukan kuenya hayo…Kalau resepnya yang dimakan…,

pasti nggak enak,…he..he…(wah gemuyu ae si mbah iki)

Kalau mau kuenya, ya dibikin dulu menurut resp tadi, kalau sudah matang,

baru dimakan,.dapat deh ‘rasa’ nya.

Nah terserah yang me’rasa’kan, enak apa nggak kue itu, yang tidak me’rasa’kan,…

ya dilarang komentar (seperti sekarang yang menghujat kaum sufi .red) karena tidak tahu,

gimana mau tahu, kalau belum me’rasa’kan hayo…? Ngarang aja kali, he…he…

Akoe ikut nyerengeh gemuyu, dirasa rasa, benar juga sih “kue” ini.

“Begitu, le’…iman itu harus sampai seperti yang diibaratkan kue tadi,

namanya iman hakiki lho..bukan iman kitabi…, kalau iman baca buku, ya sama saja

dengan iman dalil tadi, apalagi, kalau cuma katanya orang….,

wah, nggak kepake tuh, dijamin ora payu disana….

“Iman tauhid yang hakiki itu, kalau kamu punya ‘rasa bersama’ dengan Gusti Alloh,

bukan diaku-aku, dan bukan juga artinya jadi Gusti Alloh, ..awas  lho..ya..

tapi, ini benar-benar ‘rasa bersama’ dengan-Nya,…ehm..termasuk yang tidak bisa

diomongin ini, harus dirasakan, kalau belu merasakan, nggak bakal tahu…

biar dihamparkan sampai kepojok dunia juga nggak bakalan tahu.

“Man lam yadzud lam yadri” yang tidak merasakan, tidak tahu.

Akoe terdiam, lalu menguap.

Si mbah tersenyum, “sudah cukup malam ini, kalau kebanyakan jadi kekenyangan

terus bawaannya ngantuk, iya khan..?”

Akoe yang barusan jelas-jelas angop itu membantah,

“Nggak  ah, siapa yang ngantuk..? perasaan, aku masih mau makan kue.”

“Sudah tutup toko kuenya, he…he..ayo tidur sana.”

Akoe nyengir, “Tapi, nanti aku diajarin supaya bisa merasakan rasanya kue tadi ya  mbah..?

“Lha ini kan sedang..? Pelajaran TK nya.”

“Wooo, masak  TK ?”

“he..he..TK juga belum lulus.”

Akoe garuk-garuk kepala, sudah lumayan aneh-aneh kayak gitu,

ternyata belum lulus TK.

ADAB MURSYID

Januari 28, 2010

Seorang mursyid memiliki tanggung jawab yang berat. Oleh karenanya seorang mursyid itu harus memiliki kriteria-kriteria dan adab- adab sebagai berikut;
1. Alim dan ahli di dalam memberikan irsyadat (tuntunan–tuntunan) kepada para muridnya dalam masalah fiqh atau syariat dan masalah tauhid atau akidah dengan pengetahuan yang dapat menyingkirkan segala prasangkan dan keraguan dari hati para muridnya mengenai persoalan tersebut.
2. Arif dalam segala sifat kesempurnaan hati, segala etika, segala kegelisahan jiwa dan juga mengetahui cara menyembuhkannya kembali serta mempebaiki seperti semula.
3. Bersifat belas kasih terhadap semua orang Islam, terutama mereka yang menjadi muridnya. Apabila melihat ada diantara mereka yang tidak dapat segera meninggalkan kekurangan-kekurangan jiwanya, sehingga belum bisa menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaannya yang kurang baik, maka dia besikap sabar, memperbanyak maaf dan tidak bosan mengulang nasehatnya serta tidak tergesa-gesa memutuskan hubungan murid yang seperti itu dari silsilah thariqohnya. Tetapi hendaknya dia tetap dengan penuh lemah lembut selalu bersedia memberikan bimbingan-bimbingannya kepada murid asuhannya.
4. Pandai menyimpan rahasia para muridnya, tidak membuka aib mereka terlebih di depan orang banyak. Tetapi sebaliknya tetap mengawasinya dengan pandangan mata kesufiannya yang tajam serta memperbaikinya dengan caranya yang bijaksana.
5. Tidak menyalahgunakan amanah para muridnya, tidak menggunakan harta benda mereka dalam bentuk dan kesempatan apapun dan juga tidak menginginkan apa yang ada pada mereka.
6. Tidak sekali-kali menyuruh para muridnya dengan sesuatu perbuatan kecuali jika yang demikian itu layak dan pantas dilakukan oleh dirinya sendiri. Demikian pula dalam melakukan ibadah yang sunnah atau menjauhi perbuatan yang makruh. Pendeknya dalam segala keadaan dan perasaan, dirinyalah yang harus menjadi contoh terlebih dahulu, baru kemudian disampaikan suatu perintah atau larangan kepada para muridnya. Jika tidak demikian kesanggupannya, maka lebih baik hendaknya dia berdiam saja.
7. Tidak terlalu banyak bergaul, apalagi bercengkerama dan bersendau gurau dengan para muridnya. Dia hanya bergaul dengan mereka sekali dalam sehari semalam dalam kesempatan dzikir dan wirid, sekaligus menyampaikan bimbingan-bimbingannya berkaitan dengan masalah syariat dan thariqoh dengan merujuk kepada kitab-kitab yang menjadi pegangan alirannya. Sehingga dengan demikian dia dapat menghindarkan segala keraguan dan dapat membimbing para muridnya dalam beribadah kepada Allah SWT dengan amalan-amalan yang sah.
8. Mengusahakan agar segala perkataannya bersih dari pengaruh nafsu dan keinginan, terutama kata-kata yang pendapatnya itu akan memberi dampak batiniyyah pada muridnya.
9. Bijaksana, lapang dada, dan ikhlas. Tidak memerintahkan kepada para muridnya sesuatu yang menurutnya mereka tidak sanggup untuk itu dan senantiasa bermurah hati didalam memberikan pengajaran kepada mereka.
10. Apabila ia melihat seorang murid, yang karena selalu bersama- sama dan berhubungan dengannya lalu menampakkan ketinggian hatinya maka hendaknya segera dia perintahkan si murid tersebut pergi berkhalwat (menyendiri) ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat dengan dirinya.
11. Apabila dia melihat kehormatan dirinya dirasa berkurang pada perasaan dan hati para muridnya, hendaklah ia segera mengambil inisiatif yang bijaksana untuk mencegah hal tersebut. Karena berkurangnya rasa percaya dan rasa hormat seorang murid kepada guru mursyidnya adalah merupakan suatu keburukan yang membahayakan bagi pribadi si murid.
12. Memberikan petunjuk-petunjuk tertentu dan pada kesempatan-kesempatan tertentu kepada para muridnya untuk memperbaiki ahwal (perilaku dan keadaan) mereka.
13. Memberikan perhatian yang khusus pada kebanggaan rohani yang sewaktu-waktu timbul pada diri para muridnya yang masih dalam bimbingan dan pengajaran. Kadang ada seorang murid yang menceritakan suatu ru’yah (mimpi) yang dilihatnya, mukasyafah (tersingkapnya hal-hal ghaib) yang terbuka baginya dan musyahadah (menyaksikan hal-hal yang gaib) yang dialaminya, yang didalam semua itu terdapat hal-hal yang istimewa, maka hendaklah dia berdiam diri dan tidak banyak menanggapi hal tersebut. Sebaliknya, dia berikan kepada murid tersebut tambahan amalan yang dapat menolak sesuatu yang tidak benar. Sebab jika dia menanggapinya, dikhawatirkan justru akan terjadi sesuatu yang dapat merusakkan jiwa dan hati si murid. Karena memang seorang murid thariqoh bisa sewaktu-waktu mengalami peningkatan rohani, tetapi sering terjadi hal-hal yang tidak benar menurunkan martabatnya kembali.
14. Melarang para muridnya banyak berbicara dengan kawan- kawannya kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat, terutama melarang mereka membicarakan karomah-karomah atau wirid- wirid yang istimewa. Karena jika dia membiarkan hal tersebut, lambat laun si murid bisa menjadi rusak karenanya, sebab ia akan bertambah takabbur dan berbesar diri terhadap yang lainnya.
15. Menyediakan tempat berkhalwat yang khusus bagi para muridnya secara perorangan, yang tidak setiap orang boleh masuk kecuali untuk keperluan khusus. Begitupun dirinya, juga menyiapkan tempat berkhalwat khusus untuk dirinya dan sahabat-sahabatnya.
16. Menjaga agar para muridnya tidak melihat segala gerak-geriknya, tidak melihat cara tidurnya, cara makan minumnya dan lain sebagainya. Karena yang demikian itu, sewaktu- waktu bisa saja akan justru mengurangi penghormatan si murid kepadanya.
17. Mencegah para murid memperbanyak makan, karena banyak makan itu bisa memperlambat tercapainya latihan-latihan rohani yang ia berikan kepada mereka. Dan kebanyakan manusia itu adalah budak bagi kepentingan perutnya.
18. Melarang para muridnya berhubungan aktif dengan mursyid thariqoh yang lain, karena yang demikian itu acap kali memberikan akibat yang kurang baik bagi mereka. Tetapi apabila ia melihat bahwa hal itu tidak akan mengurangi kecintaan para muridnya kepada dirinya dan tidak akan mengguncangkan pendirian mereka, maka yang demikian itu tidak apa- apa.
19. Melarang para muridnya terlalu sering berhubungan dengan penguasa dan pejabat tanpa adanya keperluan tertentu, karena hal ini akan dapat membangkitkan dan membesarkan nafsu duniawi mereka serta membuat lupa bahwa mereka dididik berjalan menggapai kebahagiaan akhirat yang hakiki.
20. Menggunakan kata–kata yang lemah lembut serta menawan hati dan fikiran dalam khutbahnya. Jangan sekali-kali khutbahnya berisi kecaman dan ancaman, karena hal itu akan dapat membuat jiwa para muridnya jauh darinya.
21. Apabila dia berada di tengah para murid-muridnya, hendaklah ia duduk dengan tenang dan sabar, tidak banyak menoleh kanan-kiri, tidak mengantuk apalagi tidur, tidak menjulurkan kaki di tengah pertemuan, tidak memejamkan mata, tidak merendahkan suaranya ketika berbicara dan tidak melakukan hal-hal yang kurang etis lainnya. Karena semua yang dilakukan itu akan diikuti para muridnya yang menganggapnya sebagai contoh-contoh yang mesti mereka tiru.
22. Tidak memalingkan muka ketika ada seseorang atau beberapa orang muridnya menemuinya. Ketika akan menoleh ke arah lain, dipanggilnya muridnya itu meskipun tidak ada sesuatu yang akan dipertanyakan. Dan bila mendatangi para muridnya, dia tetap menjaga etika dan sopan-santun yang sebaik-baiknya.
23. Suka menanyakan muridnya yang tidak hadir pada pengajarannya dan mencari tahu sebabnya. Apabila murid itu sakit dia segera berusaha menengoknya. Apabila sedang ada uzur, maka ia kirimkan salam kepadanya.