Nasihat Asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily RA

Asy-Syaikh Abul Abbas al-Mursy, murid utama Syeikh Abul Hasan As-Syadzily bercerita:
Aku dan asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily telah melakukan satu perjalanan dan kami sedang menuju ke kota al-Iskandariyyah, setelah berangkat dari Barat (al-Maghrib). Aku telah merasakan kesulitan sehingga aku sangat lemah akibat dari bebannya. Maka aku pun berjumpa dengan Asy-Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily. Ketika beliau menyadari menyadarinya, lalu berkata, “Ahmad!”
Aku menjawab, “Ya, wahai penghuluku!”
Beliau berkata, “Àdam ‘alaihissalsm telah diciptakan oleh Allah dengan tanganNya, dan para malaikat telah bersujud kepadanya. Dia telah tinggal di syurga selama setengah hari (yakni lima ratus tahun), kemudian dia telah diturunkan ke atas bumi. Demi Allah, tiadalah dia diturunkan oleh Allah ke atas bumi untuk merendahkannya, tetapi untuk menyempurnakannya.
Sesungguhnya, dia telah diturunkan ke atas bumi untuk dijadikan seorang khalÏfah, seperti firmanNya (ayat ke-30 SÍrah al-Baqarah yang bermafhum) “Aku akan melantik seorang khalifah di atas bumi.”
Dia tidak mengatakan (perlantikan Adam ‘alaihissalam itu) di syurga ataupun di langit. Maka dari itu, turunnya ke bumi adalah turun dengan kemuliaan, bukannya turun dengan kehinaan. Sesungguhnya, dia telah menyembah Allah di syurga dengan pengenalan ma’rifat (at-ta’rif), maka telah diturunkannya ke bumi agar dia menyembahNya dengan tugas (at-taklif). Maka setelah berhimpun kedua-dua sifat kehambaan (al-’ubudiyyatani), barulah dia layak dilantik sebagai khalifah.
Dan engkau juga memiliki bahagian dari Adam ‘alaihissalam. Engkau bermula di Langit ar-Ruh, di dalam Syurga al-Ma’arif. Maka, diturunkan engkau ke atas Bumi an-Nafs, agar engkau menyembahNya dengan at-taklif. Maka setelah berhimpun pada dirimu kedua-dua sifat kehambaan ini, barulah engkau layak dilantik sebagai seorang khalifah.”
1. Telah diceritakan pula di dalam sebuah riwayat :
Pada suatu hari, asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily telah bertanya kepada asy-Syaikh AbÍ al-‘AbbÁs al-MursÏ, “Wahai Ahmad! Dengan apakah engkau menemui Allah?”
Asy-Syaikh Abul Abbas al-Mursy telah diam. Dia lalu menundukkan kepalanya karena dia tidak tahu bagaimana untuk menjawabnya.
Ketika asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily menyadari kebingungan pada diri anak muridnya itu, dia pun berkata pula, “Wahai Ahmad! Temuilah Allah dengan Allah!”
Asy-Syaikh Abul Abbas al-Mursy pun bertanya,”Bagaimanakah caranya untuk aku menemui Allah dengan Allah?”
Maka asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily pun menjawab, “Apabila engkau menemuiNya dengan kemaksiatanmu, Dia akan menemuimu dengan rahmatNya. Apabila engkau menemuiNya dengan keteledoranmu di dalam ketaatan, Dia akan menemuimu dengan Ihsan-Nya, kedermawananNya dan kemaafanNya. Apabila engkau menemuiNya dengan kekurangan syukurmu di atas nikmat-nikmatNya, Dia akan menemuimu dengan kemurahanNya . . . “
Wahai Ahmad! Sesungguhnya Allah telah mengaruniakan engkau keimanan dan telah membersihkan dirimu dan telah mensucikan dirimu. Akan tetapi, keimananmu dan keimanan seluruh makhlukNya itu tidak akan menambah kemahasucianNya sedikit pun . . .
2. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Ikatlah nafsumu dan kalahkanlah dengan solat. Jika solatmu itu mencegahmu dari sesuatu yang disukai oleh nafsu, maka ketahuilah bahawa engkau adalah seorang yang beruntung. Dan jika ia tidak mencegahmu dari nafsu, maka hendaklah engkau menangisi keadaan dirimu. Apabila engkau terpaksa menyeret kuat kakimu untuk pergi bersolat, hendaklah engkau ingat – adakah seorang kekasih itu tiada ingin berjumpa dengan Kekasihnya?
3. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Makanlah makanan yang paling enak, minumlah minuman yang paling lazat, tidurlah di atas hamparan yang paling empuk, dan pakailah pakaian yang paling halus. Maka sesungguhnya, jika seseorang dari engkau sekelian berbuat demikian, lalu dia mengucapkan ahamdulillah, niscaya seluruh anggota tubuh badannya juga turut mengucapkan syukur kepada Allah.
Berbeda pula jika seseorang itu makan hanya roti dengan garam, memakai pakaian yang kasar, tidur di atas tanah (atau lantai), dan minum air yang panas, lalu mengucapkan alhamdulillah. Maka sebenarnya, di dalam ucapan itu, ada rasa keluh kesah dan tidak puas hati dengan takdir Allah Ta‘ala.
Jika dia dapat melihat dengan penglihatan mata hatinya, sudah pasti dengan yakin dia akan mengetahui bahwa berkeluh kesah dan tidak merasa puas hati dengan takdir Allah itu adalah lebih besar dosanya dari mereka yang bersenang-senang dengan kepentingan duniawi.
Mereka yang bersenang-senang dengan kepentingan duniawi itu masih berada di dalam batas melakukan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah. Sedangkan orang yang berkeluh kesah dan tidak rela (yakni dengan takdir Allah), benar-benar telah melakukan sesuatu yang telah dilarang oleh Allah.
4. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Aku telah bertanya kepada guruku berkenaan wirid orang-orang yang telah benar-benar mencapai Allah.
Maka dia telah berkata, “Menggugurkan hawa nafsu dan mencintai Tuhannya. Dan dengan kecintaan itu, ia tercegah dari mencintai yang lain selain Allah.”
5. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Siapa yang ingin bersahabat dengan Allah, maka hendaklah dia berangkat meninggalkan segala kesenangan diri. Tidak akan sampai si hamba kepada Tuhannya, jika masih ada pada dirinya syahwat. Dan tidak juga, jika masih ada pada dirinya segala nafsu keinginan.
6. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Sesungguhnya kami melihat kepada Allah dengan penglihatan keimanan dan keyakinan. Hal itu membuat kami cukup dari sekadar dalil dan bukti. Maka kami tidak melihat (dengan pandangan rohani) sesuatu pun dari segala makhluk, kecuali Allah.
Adakah dalam wujud sesuatu yang lain dari al-Malik al-Haqq (Allah)? Dan jikalau ada, (wujud makhluk) tak lebih dari kabut udara, jika kami cari, pasti tiada.
7. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Barang siapa yang bertambah ilmu dan amalnya, tidak menyebabkannya bertambah iftiqar (memerlukan) Allah, merendahkan diri, maka dia telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang binasa.
8. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Kembalilah engkau dan janganlah engkau menentang Tuhanmu, maka engkau akan menjadi seorang muwahhid (yakni ahli tauhid). Beramallah engkau dengan menetapi rukun-rukun syariat, maka engkau akan menjadi seorang sunni (yakni seorang pengikut sunnah Raslullah SAW.). Himpunlah dua perkara itersebut, maka engkau akan menjadi seorang ahli hakikat.
9. Telah berkata asy-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzily :
Jika engkau ingin memperbaiki aib dirimu , janganlah sesekali engkau mengintai aib orang lain, karena mengintai keaiban orang lain itu adalah termasuk ke dalam cabang-cabang kemunafikan, sebagaimana bersangka baik (husnudzon) itu termasuk ke dalam cabang-cabang keimanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: