ILMU KEHIDUPAN

Adapun ilmu kehidupan itu, hendaklah memiliki pengetahuan.
Sudah seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan Alloh, berbekal ilmu sebagai petunjuk hidup itu sendiri.
Apakah yang dinamakan pikiran ? Apakah yang dinamakan perasaan ?
Kita harus mengetahui keduanya, sejatinya, sebenar benarnya.
Agar mengetahui bagaimana kita menggunakan setepatnya.
Menyatukan pikiran dan rasa, menjadikan kekuatan dalam jiwa.
Jika sudah mengetahuinya, maka tutuplah semua itu dengan syari’at, tutup dengan tarekat yang rapat,
sangga dengan hakikat yang sentosa, dan junjung dengan ma’rifat yang luhur.
Ilmu syari’at, sejatinya adalah tentang segala sesuatu yang disampaikan dan dikabarkan,
mengenai sebuah keyakinan akan adanya Alloh dengan segala aturannya.
Ilmu tarekat adalah ujaran para syuhada, ahli agama, mujtahid sebagai petunjuk untuk
mengetahui lebih dalam dan bagaimana caranya.
Sedangkan sejatinya hakikat adalah jika pikiran tak tergoyah lagi,
dan menjadi pengetahuan sempurna mengenai sumber ilmu segala ilmu, yakni Alloh.
Pada titik itulah pemahaman ma’rifat, mengetahui dari yang tak tampak,
sehingga tiada yang ajaib didunia ini, kecuali karena ketidak tahuan,
kehidupan bergerak karena hukum sebab akibat, tiada yang sendirian,
kecuali karena kekuasaan Alloh yang Maha tunggal.
Bila bersembah sujud pada Alloh, perlulah diberi landasan ma’rifat,
sebab sebelum menggenapinya , belumlah sampai pada ilmu yang sempurna.
Ketahuilah, sebenar benarnya ibadah, bukanlah yang hanya terucap di lidah,
bukan hanya yang terdengar dan berkumandan di telinga.
Jika hanya berhenti sampai disitu, maka tidaklah berbeda dengan perilaku hewani.
Berapapun banyak suara yang didengar tiadalah arti,
karena sesungguhnya tak dimengerti, hanya suara-suara yang menggerakkan bibir dan lidah,
tetapi tak mampu mengisi rongga jiwa akan kerinduan kepada Zat Alloh Sang Ciptaning Rasa.
Selebihnya akan jatuh pada rasa takabur dan semakin jumawa,
karena menganggap semua sudah sempurna adanya,
semua akan semakin menjauh dari Sang Tiada Berawal,
ibadah sejati tiada terpenuhi, kecuali gerak gerik tanpa makna, tanpa manfaat dunia akhirat.
Sucikanlah keinginan diri, keinginan atas keluhuran dan kemuliaan.

Pupuh Dandanggulo 376:51
Iya karepira ingkang suci, Iya Maha suci Jatinika, Tunggal Wujud Dununge, puguting tinggal luhung,
Aneng kono suhuling Widi, wadakaning agesang, yen durung sumurup, ing sajatining puji ka,
Kadya nora asih ing uripireki, awet dadya paguywan.
Keinginan yang suci ialah dari niat yang suci pula, satu jua asalnya, disanalah keluhuran Alloh,
karena jika hidup belum mengetahui apa-apa arti ibadah, hidup itu terasa kering kerontang
dan akan jadi penghalang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: